“Memang paling mudah mengambil sikap ‘tak peduli’. Tapi, ingatlah… sebagian besar masalah di dunia ini berakar dari KETIDAKPEDULIAN.”
– Dee DayDreamer –
Seperti biasa, di Minggu pagi ini aku menjalani kunjungan rutin mingguanku ke Pasar Kaget di sekitar kawasan Telkom Japati dan Lapangan Gasibu di Kota Bandung.
Tak seperti biasanya, pagi ini pelipisku terasa berdenyut-denyut, pandangan serasa berputar, dan nadiku berdetak tak karuan. Ahh.. si Agorafobia datang menyerang lagi. Aku hanya bisa menunduk pasrah untuk menjauhkan pandanganku dari keramaian, sambil mempercepat langkah agar dapat segera keluar dari situasi-kondisi ini.
Namun tampaknya bukan hanya si Agorafobia yang bertanggungjawab kali ini. Entah mengapa pagi ini pikiranku seolah dipaksa untuk terus berputar kencang sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pasar Kaget. Mataku seolah dipaksa untuk terbuka lebar melihat dan mengamati dengan lebih seksama segala keadaan maupun peristiwa yang terjadi, yang mungkin selama ini tak mendapatkan perhatian dan terlewatkan.
Telinga ini tiba-tiba terasa menyakitkan saat mendengar ocehan orang-orang yang sibuk bicara dan bicara… Semua orang berusaha untuk mengeluarkan suara yang lebih keras mengalahkan suara lawan bicaranya. Mereka berteriak-teriak… dengan volume serta frekuensi gelombang suara yang nyaring, cempreng, dan memekakkan telinga. Hey… apakah di antara mereka tidak ada yang merasa terganggu dengan suara-suara annoying yang mereka keluarkan itu??! Jangan-jangan telinga mereka memang tidak mendengar keributan yang sedang mereka hasilkan..! Everybody’s busy talking, but noone’s listening…!!!
Ahh.. Tak hanya mata dan telingaku yang dipaksa bekerja lebih keras. Otakku pun turut berpikir keras… membuat buncahan perasaan di hatiku ikut menyesakkan dada.
Saat menyaksikan Ibu-Ibu yang nggak kira-kira, tanpa tedeng aling-aling, memaksakan kehendaknya agar si Mamang Penjual Sayur menurunkan harga sayur-mayur yang dijualnya, si Mamang pun dengan pasrah namun berat hati menyerah pada Ibu-Ibu ngotot tadi dan memberikan harga yang dikehendakinya. “Yah.. daripada barang jualan saya tidak laku terjual”… Begitulah kira-kira kalimat perkataan si Mamang yang tersirat di wajah letihnya.
Haduh… hatiku miris rasanya melihat adegan itu. Yah, menawar harga dalam urusan jual-beli memang wajar-wajar saja dan bahkan tidak dilarang. Tapi, mbok ya kira-kira kalo menawar harga, Ibu-Ibu tercinta… Berapa sih keuntungan yang didapatkan oleh seorang penjual sayur??? Belum tentu pula semua barang dagangannya laku terjual hari itu… Bagaimana beliau bisa menghidupi keluarganya jika setiap berjualan sayur dirinya harus menanggung kerugian akibat barang yang tak habis terjual, apalagi ditambah dengan “discount” yang memangkas besarnya keuntungan yang seharusnya beliau dapatkan???
Masih banyak sebenarnya perilaku orang-orang di tengah keramaian Pasar Kaget yang membuatku berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Ahh.. namun jika aku mengingat-ngingat lagi dan menceritakan semuanya di sini, bisa-bisa tambah berdenyut dan semakin pusing kepala ini.
Namun sesungguhnya, tidak ada permasalahan baru dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi hari ini. Jika saja kita mau membuka mata dan telinga lebih lebar… Jika saja kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara… Seandainya saja kita menajamkan kemampuan akal kita untuk berpikir dan hati kita untuk merasa… Dan seandainya saja kita dapat meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap sesama… Maka niscaya dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.
Kebanyakan dari kita itu ‘merasa pintar, tapi tidak pintar merasa’. Begitulah kira-kira kalimat yang saya kutip dari sebuah ceramah oleh KH. Zainuddin MZ. Dan termasuk golongan yang manakah kita…??? Biar hati kita yang menjawabnya…
Dee DayDreamer – Bandung, 0702’10
NB: Tulisan ini bukanlah sebuah kritik sosial. Tapi, jika Anda (para Pembaca) menganggapnya demikian, maka itu adalah hak Anda. Dan seandainya tulisan ini memang merupakan sebuah kritik sosial, maka kritik ini tidak bermaksud saya tujukan kepada siapapun, KECUALI kepada diri saya sendiri…








