Perjalanan lintas-kota hari ini dimulai pada pukul 10.15, dari Pantai Sendang Biru, dengan tujuan akhir adalah Kota Batu. Jalur yang kami lalui secara berturut-turut adalah Pantai Sendang Biru – Pasar Turen – Terminal Gadang – Terminal Landungsari – Terminal Kota Batu. Dan, berikut ini adalah ringkasan rute perjalanan yang kami lalui untuk mencapai Kota Batu dari Pantai Sendang Biru:
- Pantai Sendang Biru – Pasar Turen: Naik Angkot jurusan Pantai Sendang Biru – Pasar Turen, dengan tarif 12 ribu rupiah, dan lama perjalanan ± 2 jam.
- Pasar Turen – Terminal Gadang: Naik Bis Jurusan Dampit – Gadang, dengan tarif 4 ribu rupiah, dan lama perjalanan ± 30 menit.
- Terminal Gadang – Terminal Landungsari: Naik Angkot Jurusan GL, dengan tarif 2500 rupiah, dan lama perjalanan ± 50 menit.
- Terminal Landungsari – Terminal Kota Batu: Naik Angkot Jurusan Landungsari – Batu, dengan tarif 3 ribu rupiah, dan lama perjalanan ± 40 menit.
Saat berada di Terminal Gadang, kami sempat makan siang sejenak dan singgah di Wartel untuk menelpon – mencari informasi seputar – tempat-tempat penginapan di Batu. Karena tak kunjung menemukan tempat penginapan dengan harga yang sesuai, maka kami memutuskan untuk langsung menuju ke Batu saja, dan bertanya-tanya lagi di sana.
Sesampainya di Terminal Kota Batu, seperti biasa, dan seperti yang telah direncanakan, kami mampir ke Wartel untuk mencari informasi mengenai tempat penginapan dengan harga terjangkau di Batu. Setelah diberikan rekomendasi nama hotel, kami kemudian menelpon 108, dilanjutkan dengan menelpon hotel yang bersangkutan.
For your information… Tarif harga hotel di Kota Batu ini relatif mahal !!! Inilah sedikit informasi mengenai beberapa hotel di Batu :

Kami memilih hotel dengan harga termurah yang berhasil kami temukan, yaitu Hotel Imam Bonjol, dan tentu saja dengan pertimbangan bahwa lokasi hotel ini memberikan beberapa keuntungan bagi kami, di antaranya: (1). Dekat dengan terminal; (2). Dekat dengan tempat-tempat yang ingin kami kunjungi, yaitu Alun-Alun Kota (di mana terdapat Monumen Apel, bangunan khas Kota Batu) dan BNS (Batu Night Spectacular).

Hotel Imam Bonjol
The Carnaval
Setelah check-in di hotel dan mencuci beberapa potong baju, kami pun berangkat menuju alun-alun untuk melihat pusat keramaian di Kota Batu. Ternyata hari itu merupakan hari diadakannya Karnaval 17 Agustus-an di Kota Batu. Dan kami datang pada saat yang tepat pula, tepat saat karnaval baru dimulai. Hmm.. Karena terlalu ramai, kami sampai tidak bisa berfoto di depan Monumen Apel. Ah… Tapi berhubung hotel kami dekat dengan alun-alun (1x naik angkot), maka acara berfoto di depan Monumen Apel bisa ditunda sampai besok pagi. Kami pun ikut terpukau menyaksikan karnaval yang sangat meriah ini. Wah… Jadilah kami merayakan Hari Kemerdekaan RI yang ke-64 di Kampung orang lain.

Setelah puas menonton Karnaval, kami pun langsung menuju BNS (Batu Night Spectacular). Rupanya angkot di Kota Batu ini hanya beroperasi sampai pukul 17.00 (pukul 5 sore). Sehingga kami harus merogoh kocek sebesar 7.500 rupiah/orang untuk menumpang ojek dari alun-alun sampai ke BNS.
BNS (Batu Night Spectacular)
BNS, sesuai dengan namanya, adalah sebuah tempat hiburan yang baru beroperasi pada pukul 15.00 sampai pukul 23.00 pada hari biasa, dan sampai pukul 24.00 pada hari Minggu dan Musim Libur. Di sini terdapat berbagai wahana permainan, sehingga tampak seperti Dufan (tempat hiburan Dunia Fantasi di Jakarta) mini. Beberapa wahana yang ada sini di antaranya adalah: Mouse Coaster, Flying Swinger, Disco Bumper Car, Aero Test, Rumah Hantu, Rumah Kaca, Cinema 4D, Sky Bike, Lampion Garden, Go-Kart, Trampolin, dan masih banyak lagi. Selain itu, terdapat Night Market yang menjual berbagai jenis barang, hingga souvenir bertuliskan BNS. Dilengkapi juga dengan foodcourt dan live music show. Secara keseluruhan, BNS mengingatkan saya pada gambaran pasar malam di film-film Hollywood, hanya saja dengan versi yang lebih modern dan tertata rapi.
Tiket masuk BNS berharga 7 ribu rupiah pada hari Senin-Kamis dan 10 ribu rupiah pada hari Jumat-Minggu dan Musim Libur. Tiket masuk ini tidak bersifat tiket terusan, yang artinya, untuk menikmati wahana yang ada di dalam, pengunjung harus membayar lagi untuk setiap wahana, dengan harga tiket masuk wahana berkisar antara 5 sampai 15 ribu rupiah. Karena harus mengeluarkan rupiah untuk setiap wahana, maka kami sangat selektif dalam memilih wahana yang ingin kami naiki.
Akhirnya, kami memutuskan untuk menaiki 3 wahana, yaitu Sky Bike, Mouse Coaster, dan Aero Test, dengan tiket masuk masing-masing wahana adalah 7 ribu rupiah. Rupanya pilihan kami tepat karena ketiga wahana tersebut sangat menarik, bahkan saya merekomendasikan Anda untuk mencoba ketiga wahana ini jika suatu saat berkunjung ke BNS..!!! Worth it lah pokoknya… Sebagai gambaran singkat mengenai ketiga wahana tersebut:
- Sky Bike atau Sepeda Udara adalah sebuah wahana berbentuk mobil-mobilan kecil yang dikayuh di atas rel yang terletak beberapa meter di atas permukaan tanah (saya tidak tahu tepatnya berapa meter, yang jelas sangat tinggi), sehingga saat mengitari rel ini kita dapat melihat pemandangan Kota Batu dari atas. Bisa dilihat gambarnya dalam kumpulan gambar di bawah.
- Mouse Coaster adalah semacam Roller Coaster, namun tanpa disertai adegan berputar 360 derajat. Bagi yang sudah pernah mencoba Roller Coaster di Dufan mungkin yang di sana jauh lebih menegangkan. Namun Mouse Coaster ini cukup memacu adrenalin juga, terutama karena rel-nya yang sempit, serta belokan-belokan dan jalur naik-turunnya yang mematah tajam. Bentuk rel Mouse Coaster juga dapat dilihat pada foto di bawah.
- Aero Test inilah wahana yang paling memacu adrenalin di sini. Bahkan bagi saya yang sudah mencoba semua wahana di Dufan, dan sangat menikmati wahana-wahana pemacu adrenalin semacam ini, wahana Aero Test yang satu ini termasuk sangat menegangkan dan sangat cocok untuk ajang uji nyali… Bayangkan… Di atas bangku yang sudah diamankan dengan safety belt, tubuh kita dilempar dan diputar 360º… berkali-kali… di udara… Hahaha… Luar biasa rasanya…!!! Bagaimana??? Berani mencoba??? Wah… Sayang sekali kalau Anda tidak mencobanya… Kenapa??? Tidak berani??? Hihihi… Oops… Sayang sekali kami kelupaan mengambil gambar wahana yang satu ini. Sangking excited-nya sampai lupa berfoto… Tapi… Jadi makin penasaran kan??? Hehehe…
Setelah menikmati ketiga wahana itu, kami langsung menuju foodcourt. Di area foodcourt ini, setiap hari pada pukul 20.30 dan 22.30 diadakan pertunjukkan Air Mancur Menari dan Laser Show yang sangat spektakuler. Malam itu, sambil menikmati secangkir Hot Cappuccino, saya juga mendapat kesempatan menyaksikan Live Music Show oleh sebuah band lokal asal Kota Malang. Hmm.. Hmm.. BNS, sesuai namanya, benar-benar spektakuler…!

Coban Rondo
Tanggal 19 Agustus 2009 pukul 08.00… Setelah menikmati breakfast di hotel (rotinya enak lho…), kami menaiki angkot dari depan hotel menuju Terminal Kota Batu. Dari Terminal, kami naik Bis Jurusan Malang-Jombang-Tuban, dan turun di Pujon (Patung Sapi) – tepat di depan gapura bertuliskan Selamat Datang Wana Wisata Air Terjun Coban Rondo, dengan tarif 3 ribu rupiah, dan lama perjalanan ± 20 menit. Kira-kira 5 menit sebelum mencapai Pujon, atau 15 menit dari Terminal, bis melewati kawasan Songgoriti dan kawasan Payung yang sangat indah, di mana orang-orang biasanya menikmati pemandangan dari atas Kota Batu terutama pada malam hari.
Berdasarkan papan penunjuk jalan, Coban Rondo masih berjarak 4 km lagi dari gapura tersebut. Sehingga, dari Patung Sapi, kami harus menumpang ojek lagi untuk sampai di Coban Rondo, dengan tarif 10 ribu rupiah/ojek/1x jalan atau 20 ribu rupiah PP (tarif ini tidak bisa ditawar karena sudah merupakan kesepakatan bersama perkumpulan Tukang Ojek di sana). Setelah naik ojek selama beberapa menit, tibalah kami di depan loket, dan membayar karcis masuk seharga 8 ribu rupiah. Dari loket tersebut, ternyata pintu masuk Coban Rondo masih cukup jauh juga. Total waktu perjalanan dari Patung Sapi sampai ke pintu masuk Coban Rondo adalah ± 10 menit.

Patung Sapi & Gapura bertuliskan Selamat Datang Wana Wisata Air Terjun Coban Rondo
Wah… Tidak menyesal jauh-jauh ke Coban Rondo, karena ternyata air terjun ini memang sangat indah. Saya yang tadinya tidak berniat berbasah-basahan akhirnya tergoda juga merendam kaki di dalam air dan merasakan sedikit guyuran air terjun. Sangking kencangnya angin yang dihasilkan oleh air terjun yang jatuh ke permukaan air, sampai-sampai terbentuk pelangi di atas permukaan air. Wuiiihhh… Keren sekali…

Menyesal juga karena tidak membawa baju ganti, sehingga terpaksa berjemur sejenak di bawah terik matahari untuk mengeringkan pakaian setelah berbasah-basahan agar tidak masuk angin di jalan. Setelah puas berbasah-

basahan dan berjemur, kami pun kembali ke Patung Sapi dengan ojek yang sama, dan dari sana segera menuju ke Alun-Alun Kota Batu.
Tujuan kami di alun-alun, tentu saja, adalah berfoto di depan Monumen Apel. Kami tidak berlama-lama di sana, karena harus mempersiapkan diri untuk ke Bromo keesokan harinya. Setelah berfoto, kami singgah makan bakso sejenak, kemudian langsung kembali ke hotel untuk check-out dan meninggalkan kesejukan di Kota Batu.
DayDreamer, Agustus 2009
