Dunia dari Balik Jendela Angkot
08 Juli 2010
What People Would Do for A Living…

Hari ini rasa malas benar-benar tengah melanda. Sejak bangun tidur di pagi hari, saya sudah merasakan perasaan malas yang menghambat saya untuk segera bangkit dari tempat tidur dan memulai aktivitas hari itu. Sudah terbayang perjalanan selama sekitar 40 menit menuju tempat kerja yang akan saya lewatkan di dalam angkot.
Ditemani oleh sinar matahari yang mulai bersinar terik dan menyilaukan, debu jalanan yang beterbangan dan membuat mata kelilipan, udara sumpek di dalam angkot akibat penumpang yang berjubelan, permukaan jalanan tidak rata yang membuat penumpang terlonjak-lonjak tak beraturan, keramaian dan bau tidak sedap yang harus dihadapi saat angkot melintas di dalam pasar, serta masih banyak lagi hal yang tidak menyenangkan yang harus dilalui sepanjang perjalanan dari rumah menuju tempat kerja, saya pun merasa bahwa perjalanan ke tempat hari kerja pada hari itu pasti akan terasa berat dan melelahkan.
Maka berangkatlah saya pagi itu tanpa bersemangat. Berbagai hal menyebalkan yang sudah terbayang-bayang sejak bangun tidur pagi tadi harus saya hadapi sebentar lagi.
Dan, persis seperti yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Tidak ada yang berbeda dengan perjalanan di dalam angkot pagi ini, dan yang pasti, tidak lebih baik dari apa yang saya bayangkan. Separuh pertama perjalanan ini semakin merusak mood saya, sampai-sampai saya berpikir mungkin lebih baik tidak jadi masuk kerja saja sekalian, karena jika di awal pagi ini saja sudah diawali dengan mood yang tidak enak begini pastilah suasana hati saya saat bekerja nanti juga tidak akan berbeda jauh. Dan pemikiran itu akhirnya malah semakin membunuh semangat saya untuk menuju ke tempat kerja, walaupun akhirnya saya toh tidak menuruti juga pikiran irrasional tersebut.
Namun anehnya, mendekati kawasan pasar, mata saya justru menangkap hal-hal menarik yang membuat otak saya mulai berputar. Seolah ada tombol on yang baru saja ditekan sehingga membuatnya terbuka dan berjalan seperti biasanya, menyingkirkan seketika semua bayangan dan pikiran yang mengundang kemalasan saya sejak awal pagi itu.
Saat angkot ngetem di pinggir jalan, saya menyaksikan seorang wanita yang wajahnya sudah dipenuhi garis-garis keriput, tengah menyiapkan sepiring nasi kuning di belakang gerobak jualannya untuk seorang pelanggan yang tampaknya sudah tidak sabar untuk menikmati hidangan sarapan paginya. Setelah itu, wanita berusia senja itu menyiapkan pula secangkir kopi panas untuk pelanggannya yang lain. Semua itu ia kerjakan seorang diri, tanpa ada orang lain yang membantunya, karena sampai angkot kembali berjalan lagi, saya tidak melihat seorang pun yang mendampingi dirinya berjualan. Saya tertegun… dan pikiran saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengolah informasi yang baru ditangkap oleh kedua mata saya tersebut.
Tak jauh dari tempat tadi, angkot yang saya naiki memasuki pasar. Suasana hiruk-pikuk khas pasar basah tradisional mulai terasa, begitu juga dengan bau ayam dan ikan busuk yang tengik, bercampur dengan bau lumpur ditambah aroma sampah pasar yang menusuk saraf-saraf penghiduan. Baru beberapa meter memasuki pasar, angkot kembali ngetem. Arrghhh… Beberapa sopir angkot memang tampaknya tak peduli dengan penumpangnya yang ingin sampai ke tempat kerja tepat waktu dan tidak ingin terlambat gara-gara angkot yang ditumpanginya ngetem seenaknya dengan frekuensi dan lama perhentian yang kelewatan.
Tak lama kemudian, saat saya sedang bolak-balik melihat jarum jam di pergelangan tangan saya dengan cemas, tampak seorang pria tua berjalan mendekati pintu angkot. Pria tua itu mengenakan kemeja lusuh berwarna biru, dengan sebuah topi tua berwarna hitam usang bertengger di kepalanya, dan celana yang tidak tampak oleh saya karena tertutup badan angkot. Usianya, menurut perkiraan kasar saya, antara 50-60 tahun. Wajahnya penuh kerutan dan tampak lelah. Posturnya agak bungkuk, seolah ia telah lama memikul beban hidup yang begitu berat di punggungnya.
Dengan berhati-hati, pria tua itu mengangkat sebuah karung besar yang terisi penuh dan kelihatannya sangat berat. Kemudian, dengan bersusah-payah ia berusaha menaikkan dan memasukkannya ke dalam angkot. Lalu, dengan perlahan, ia pun melangkah memasuki angkot dan menempati tempat duduk yang berdekatan dengan pintu dan tidak jauh dari barang bawaannya. Setelah saya amati dengan seksama, ternyata karung besar itu berisi bahan-bahan makanan mentah seperti bakso, sosis, dan sebangsanya, yang mengisi penuh karung tersebut, sangking penuhnya sehingga bentuknya tercetak dan terproyeksikan dengan jelas di seluruh permukaan karung. Barang-barang tersebut saya simpulkan saja sebagai barang dagangan yang akan dijualnya di suatu tempat yang akan dilalui angkot ini. Berarti, tentu saja, pria tua ini adalah seorang pedagang.
Tidak ada yang terlalu istimewa memang jika seorang pria setua dirinya itu menjadi seorang pedagang. Namun, yang luar biasa adalah, kenyataan bahwa seorang pria setua dirinya itu datang sendiri ke pasar, dan seorang diri pula menggotong-gotong sekarung penuh barang dagangannya yang begitu beratnya sehingga saya pun tidak yakin bahwa saya mampu mengangkat karung yang terisi penuh dengan berbagai macam bahan makanan tersebut.
Saya pandangi lagi tulang belakangnya yang melengkung, barang bukti sekaligus saksi bisu atas perjuangannya untuk menyambung hidup setiap harinya. Lalu ingatan saya memutar ulang pemandangan yang saya tangkap di tempat ngetem angkot sebelumnya, gambaran seorang wanita dengan wajah yang sudah dipenuhi garis-garis keriput, seorang diri, tengah menyiapkan hidangan sarapan pagi untuk para pembeli dagangannya.
Wow..! Isn’t that amazing..?? How people struggle to survive… What they would do for a living… Seolah usia tidak menjadi penghalang, dan kesendirian bukanlah sesuatu yang patut disesalkan. Di mana roda kehidupan harus terus berjalan. Di mana tak ada tempat untuk bermalas-malasan, tiada ruang untuk meratap, dan tak ada waktu untuk berkeluh-kesah.
Bekerja keras atau binasa…
Menjalani hidup yang keras, atau tidak hidup sama sekali…
Berjuang menghadapi kenyataan… atau hilang.
Seolah, memang, tidak ada banyak pilihan…
Bayangkan… pukul berapa ibu tua penjual nasi kuning itu harus bangun di pagi hari untuk memasak makanan dagangannya dan menyiapkan segala sesuatunya, sebelum kemudian ia berjualan dengan gerobaknya, di pinggir jalan yang berdebu dan tak terlindungi dari sengatan teriknya sinar matahari.
Bayangkan pula… apa yang dirasakan bapak tua itu saat menyeret langkah kakinya yang sudah termakan radang sendi akibat usia, sambil tertatih-tatih membawa sekarung barang dagangannya yang penuh dan berat, melewati beceknya jalanan dan tumpukan sampah di pasar, lengkap dengan tengiknya bau ayam dan ikan busuk yang numpang masuk ke dalam hidungnya setiap kali ia menghirup napas. Betapa paru-paru tuanya merindukan udara segar yang hampir mustahil didapatkannya.
“Kiriii, Pak..!”, plang besar bertuliskan nama tempat kerja saya menyadarkan saya untuk segera turun dari angkot. “Punten, Pak…”, ujar saya sesopan mungkin saat lewat di depan bapak tua pedagang itu sambil berjalan terbungkuk-bungkuk untuk menuju pintu dan keluar dari angkot. Sekilas saya lirik lagi wajah lelahnya agar dapat terekam dengan jelas dalam memori visual saya.
Setelah memasuki ruang kerja, barulah saya berusaha menghayati betapa nyamannya tempat kerja saya ini, dan betapa beruntungnya saya sesungguhnya. Tatanan mebel yang rapi, udara segar yang bersirkulasi dengan lancar, lengkap dengan harumnya aroma pewangi ruangan. Betapa sesungguhnya saya tidak mempunyai alasan untuk malas berangkat kerja… padahal saya masih muda dan bertenaga… sedangkan ibu tua penjual nasi kuning dan bapak tua pedagang bahan makanan saja tak kenal menyerah meski harus bekerja dengan segala keterbatasan yang mereka miliki dan lingkungan pekerjaan yang jauh dari kenyamanan.
Kenapa saya harus merasa malas bekerja dengan semua kemudahan dan kenyamanan yang saya dapatkan ini? Kenapa saya harus mengeluh, padahal pengorbanan yang saya lakukan tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan hasil yang saya dapatkan dari pekerjaan saya saat ini? Kenapa saya harus merasa bahwa hidup yang saya jalani ini begitu berat, padahal di luar sana banyak orang yang kurang beruntung dan bahkan harus menjalani kehidupan yang keras serta perjuangan hidup yang lebih berat?
Kenapa saya harus menuntut lebih dari hidup ini, ketika seharusnya saya banyak bersyukur??? Ahh… Saya jadi malu…
DayDreamer – Bandung, 0807’10