Daydreamer’s Daydreams

‘MERASA PINTAR’ Atau ‘PINTAR MERASA’ Kah Kita ???

Februari 7, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

“Memang paling mudah mengambil sikap ‘tak peduli’. Tapi, ingatlah… sebagian besar masalah di dunia ini berakar dari KETIDAKPEDULIAN.”

– Dee DayDreamer –


Seperti biasa, di Minggu pagi ini aku menjalani kunjungan rutin mingguanku ke Pasar Kaget di sekitar kawasan Telkom Japati dan Lapangan Gasibu di Kota Bandung.

Tak seperti biasanya, pagi ini pelipisku terasa berdenyut-denyut, pandangan serasa berputar, dan nadiku berdetak tak karuan. Ahh.. si Agorafobia datang menyerang lagi. Aku hanya bisa menunduk pasrah untuk menjauhkan pandanganku dari keramaian, sambil mempercepat langkah agar dapat segera keluar dari situasi-kondisi ini.

Namun tampaknya bukan hanya si Agorafobia yang bertanggungjawab kali ini. Entah mengapa pagi ini pikiranku seolah dipaksa untuk terus berputar kencang sejak pertama kali menginjakkan kaki di Pasar Kaget. Mataku seolah dipaksa untuk terbuka lebar melihat dan mengamati dengan lebih seksama segala keadaan maupun peristiwa yang terjadi, yang mungkin selama ini tak mendapatkan perhatian dan terlewatkan.

Telinga ini tiba-tiba terasa menyakitkan saat mendengar ocehan orang-orang yang sibuk bicara dan bicara… Semua orang berusaha untuk mengeluarkan suara yang lebih keras mengalahkan suara lawan bicaranya. Mereka berteriak-teriak… dengan volume serta frekuensi gelombang suara yang nyaring, cempreng, dan memekakkan telinga. Hey… apakah di antara mereka tidak ada yang merasa terganggu dengan suara-suara annoying yang mereka keluarkan itu??! Jangan-jangan telinga mereka memang tidak mendengar keributan yang sedang mereka hasilkan..! Everybody’s busy talking, but noone’s listening…!!!

Ahh.. Tak hanya mata dan telingaku yang dipaksa bekerja lebih keras. Otakku pun turut berpikir keras… membuat buncahan perasaan di hatiku ikut menyesakkan dada.

Saat menyaksikan Ibu-Ibu yang nggak kira-kira, tanpa tedeng aling-aling, memaksakan kehendaknya agar si Mamang Penjual Sayur menurunkan harga sayur-mayur yang dijualnya, si Mamang pun dengan pasrah namun berat hati menyerah pada Ibu-Ibu ngotot tadi dan memberikan harga yang dikehendakinya. “Yah.. daripada barang jualan saya tidak laku terjual”… Begitulah kira-kira kalimat perkataan si Mamang yang tersirat di wajah letihnya.

Haduh… hatiku miris rasanya melihat adegan itu. Yah, menawar harga dalam urusan jual-beli memang wajar-wajar saja dan bahkan tidak dilarang. Tapi, mbok ya kira-kira kalo menawar harga, Ibu-Ibu tercinta… Berapa sih keuntungan yang didapatkan oleh seorang penjual sayur??? Belum tentu pula semua barang dagangannya laku terjual hari itu… Bagaimana beliau bisa menghidupi keluarganya jika setiap berjualan sayur dirinya harus menanggung kerugian akibat barang yang tak habis terjual, apalagi ditambah dengan “discount” yang memangkas besarnya keuntungan yang seharusnya beliau dapatkan???

Masih banyak sebenarnya perilaku orang-orang di tengah keramaian Pasar Kaget yang membuatku berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala. Ahh.. namun jika aku mengingat-ngingat lagi dan menceritakan semuanya di sini, bisa-bisa tambah berdenyut dan semakin pusing kepala ini.

Namun sesungguhnya, tidak ada permasalahan baru dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi hari ini. Jika saja kita mau membuka mata dan telinga lebih lebar… Jika saja kita belajar untuk lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara… Seandainya saja kita menajamkan kemampuan akal kita untuk berpikir dan hati kita untuk merasa… Dan seandainya saja kita dapat meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap sesama… Maka niscaya dunia ini akan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni.

Kebanyakan dari kita itu ‘merasa pintar, tapi tidak pintar merasa’. Begitulah kira-kira kalimat yang saya kutip dari sebuah ceramah oleh KH. Zainuddin MZ. Dan termasuk golongan yang manakah kita…??? Biar hati kita yang menjawabnya…

Dee DayDreamer – Bandung, 0702’10

NB: Tulisan ini bukanlah sebuah kritik sosial. Tapi, jika Anda (para Pembaca) menganggapnya demikian, maka itu adalah hak Anda. Dan seandainya tulisan ini memang merupakan sebuah kritik sosial, maka kritik ini tidak bermaksud saya tujukan kepada siapapun, KECUALI kepada diri saya sendiri…

→ Tinggalkan KomentarKategori: Great IDEAS and INSPIRING Stuffs
Ditandai:

HUJAN…

Februari 3, 2010 · & Komentar

Akankah hujan menghapus perih ini hingga luntur tak berbekas ?

Akankah hujan menyamarkan air mata dengan derasnya butiran air yang tumpah dari langit ?

Akankah rintik hujan mengguyur hati dengan sukacita dan luapan samudera kebahagiaan ?

Akankah hujan membanjiri jiwa yang sunyi dengan rindu yang berbalas ?

Akankah hujan menghantarkan alunan sendu para pemimpi yang tersisihkan ?

Akankah hujan menyejukkan kepingan-kepingan pilu individu yang ditinggalkan ?

Akankah hujan mengembalikan sepotong kecil kearifan yang terlupakan ?

Akankah hujan menjelma menjadi bintang yang bersinar ?


Ah…

Tapi cukuplah ia menjadi bianglala yang mewarnai dunia dengan rona lariknya yang menawan dan sempurna…


DayDreamer – 0202’10

→ 4 CommentsKategori: LOVE and LIFE

COFFEE & HEALTH

Januari 26, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Many scientific studies are experimenting about the relevancy between drinking coffee and the drinker’s health. The results from some studies show that coffee gives a bad effect for health. But some other studies are revealing the positive sides for coffee drinker instead.

In the beginning of its expansion, coffee was believed as a medicine that could increase the body immunity and freshness. In fact, in the beginning of its history, coffee was used by Moslem intellectuals as medicine, not as a poison which should be avoided. But during this modern era of health, coffee as a drink is started to get medical monitoring and investigation since it has been considered to have a bad effect on health. That is why many coffee drinkers often consuming coffee with a guilty feeling. So how is exactly the effect of coffee on health?

These are some explanations about the positive and negative effects of coffee for our body and health.

CAFFEINE IN COFFEE

To get a comprehensive knowledge about coffee, we must first understand about a substance contained in coffee – a very famous one, caffeine…

  • A bitter and scentless alkaloid substance known as caffeine was found in 1685 by Philippe Sylvestre, MD.1
  • According to coffee types and processing, the amount of caffeine in coffee can be divided into several levels. On an average, in a cup of coffee, which is about 207 ml or an amount of a cup of espresso, 30 ml of that amount is estimated to contain caffeine about 40 to 150 milligrams (mg).2
  • The lethal dose of caffeine approximately equals to a hundred cups of coffee, or 10 grams of caffeine.1
  • Researchers believe that drinking caffeinated coffee can cause arteriosclerosis which would interfere with our heart function.2
  • Caffeine, just like alcohol and nicotine, has an ability to be dissolved in blood which can reach into parts of brain, thus influencing minds and causing addiction in persons who consume coffee in a large amount. The effect of this addiction would be frightening if it reaches a critical level.2
  • The positive sides of caffeine are the fact that it makes the mind clear and flows quicker, and also put away the feeling of sleepiness and weariness.1 After consuming caffeine, someone could reach a higher level of intellectual. Due to coffee too, motoric activities and the sensory stimulus worked more smoothly.
  • Caffeine effects will be felt after consuming one or two cup(s) of coffee. With that amount of coffee, the heart beats faster, and the blood vessels are dilating. Then, the movement of liquid and solid dirt in our body will be accelerated.1

SOME INTERESTING FACTS (RESEARCH RESULTS) ON THE EFFECT OF COFFEE TO HEALTH

  • In 1685, Phillipe Sylvestre, MD. accurately found some chemical substances in coffee and tested them on human. From this experiment, he concluded that several people can consume coffee in comfort, while some others don’t. He even found that a few people can, in fact, sleep soundly after drinking coffee because the coffee seed vanished all the feeling of wariness and restlessness in them.1
  • For 25 years of intensive research, there haven’t been any health professionals or nutritionists who can scientifically proven the relation between caffeinated coffee and birth rate, including births with defect.2
  • A study launched in www.caffeineweb.com mentioned that several psychiatrists, immunologists and toxicologists considered that caffeine is potentially causing mental illness symptoms. 80% of world populations are consuming caffeine, and 25% of them are diagnosed of suffering mental disturbances. For a psychiatrist, caffeine might be the number one enemy, since it is identical with the cause of restlessness, stress, depression, up to schizophrenia.2
  • From a research led by Monami Inoue from National Cancer Center Tokyo on 90,000 Japanese, it was proven that consuming coffee decreased the risk of heart cancer up to half the risk.1
  • A research on 6,000 men and women reported by Framingham Heart Study showed that there was no consistent relevancy between drinking coffee and the increasing level of cholesterol.1
  • A research by Walter Willet, MD. et al. from Harvard School of Public Health suggested that there is no consistent relevancy of caffeine consumption with heart attack and stroke.1
  • In the beginning, researchers from John Hopkins found, from a study in 1994, that coffee consumption was proven related to a higher risk for heart disease. But, the increasing risk was mainly happened in coffee drinking pattern before the year 1975 – where before the middle of 70’s, Americans had not used coffee drip machine thus the coffee they consumed was not filtered.1
  • According to the result from a research by University of Sao Paulo Brazil, it was concluded that caffeine could stimulate sperm cells in a man’s body, thus increased someone’s fertility. The point of the research concluded that the sperms quality of coffee drinkers are healthier than the sperms of persons who don’t drink coffee. The sperms fertility of coffee drinkers are caused by substances consisted in caffeine. After it was analyzed, caffeine consisted in coffee was considered to have an ability in accelerating the speed of the sperm cells movement.2
  • The negative side of coffee is that for a severe coffee drinker, on the contrary, would experience chronic wariness, restlessness, and easily irritated. A huge dose of coffee or a dose equals to ten cups of thick coffee which are drunken continuously, would produce toxic effects, such as vomiting, fever, chilled, and mental confusion.1

REFLECTION MATTERS FOR COFFEE-ADDICT

Drinking coffee excessively only turns coffee into poisonous drink (just like a medicine which can turn into toxic if exceeds its maximum dose). So, just drink coffee in proper amount. There have been no report, this far, about the negative effect of coffee from caffeine dose as much as 300 mg a day (one cup of coffee approximately contains 100 mg caffeine).1 The recommended proper amount is about 3 (three) cups of coffee, or 236 ml per day.2

If we want to maintain our body’s health condition, we need to be cautious in consuming coffee. Therefore, we have to know how to read our own body’s condition, start from self-health quality, toxic substances consisted in coffee, and the amount of coffee dose we drink, so that we can avoid the negative effects of coffee.

It must be kept in mind that the first aim of drinking coffee is to get pleasure, thus the damages in our body due to our own recklessness in consuming it is definitely not something that we wish for.

So, let’s enjoy drinking coffee… Without any feeling of guilty…

Sources :

  1. 1. A Passion of Coffee – Seri Gaya Hidup Sehat. Publisher: Tabloid Gaya Hidup Sehat
  2. 2. Kopi: Dari Sejarah, Efek bagi Kesehatan Tubuh, & Gaya Hidup. Author: Eka Saputra. Publisher: Harmoni. Yogyakarta. September 2008

DayDreamer – 23 Februari 2009

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: ,

FILOSOFI SEMAR

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

SEMAR

Ucapan Mbah Semar setiap kali mau mengawali dialog: “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng…” (diam, bergerak/berusaha, makan, walaupun sedikit, abadi)

Maksudnya, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng). Sebuah pesan agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.

Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh punakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

SEJARAH SEMAR

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439. (baca selengkapnya…)


PUNAKAWAN

Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa. (baca selengkapnya…)


BENTUK FISIK SEMAR

Semar berhidung seperti umbi pangkal seledri, hidung tersebut digambarkan beringus, matanya digambarkan seperti menangis (rembes/rejeh), bibir di bawah agak panjang, rambutnya berjambul, perutnya berburut, tangannya bergelang dan kedua tangannya dapat digerakkan dan pantatnya besar ke belakang. (baca selengkapnya…)


KEISTIMEWAAN SEMAR

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar. (baca selengkapnya…)


BATARA SEMAR

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.

Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.

Yang bukan dikira iya.

Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

(baca selengkapnya…)


KISAH DUALISME SEMAR

Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).

Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.

(baca selengkapnya…)


SEMAR DAN WAHYU

Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu. (baca selengkapnya…)


FILOSOFI SEMAR (Kesimpulan)

Semar dan anak-anaknya selalu menjadi pelayan atau pembantu kesatria yang baik, umumnya Arjuna atau anak Arjuna, penengah Pandawa. Semar adalah sebuah filsafat, baik etik maupun politik. Di balik tokoh hamba para kesatria ini, terdapat pola pikir yang mendasarinya. (baca selengkapnya…)


SUMBER :

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , , , ,

SEJARAH SEMAR

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , ,

PUNAKAWAN

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, dan Bagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsa Gandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Semar, nama tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar. Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-. Contohnya seperti Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Agama adalah pengokoh/pedoman hidup manusia. Semar dengan demikian juga adalah simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Nala Gareng, juga diadaptasi dari kata arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa, kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng. Kata ini berarti memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para aulia sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) agar kembali ke jalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Petruk, diadaptasi dari kata Fatruk. Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan (petuah) tasawuf yang berbunyi: Fat-ruk kulla maa siwalLaahi, yang artinya: tinggalkan semua apapun yang selain Allah. Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para aulia dan mubaligh pada waktu itu. Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlubang. Maknanya bahwa, setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, seperti berlubangnya kantong yang tanpa penghalang.

Bagong, berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak. Yaitu berontak terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan. Si “Bayangan Semar” ini karakternya lancang dan suka berlagak bodoh.

Secara umum, Punakawan melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya. Pada dasarnya setiap manusia umumnya memerlukan pamomong, mengingat lemahnya manusia, hidupnya perlu orang lain (makhluk sosial) yang dapat membantunya mengarahkan atau memberikan saran / pertimbangan. Pamomong dapat diartikan pula sebagai guru / mursyid terhadap salik yang dalam upaya pencerahan jati diri.

Karakter Punakawan (selain para tokoh lainnya) dari jalur acuan Walisongo sebenarnya muncul berdasarkan penuturan Puntadewa/Dharmakusuma (satu-satunya dari Pandawa yang kemudian memeluk Islam) dan Semar / Ismaya kepada Sunan Kalijaga dalam komunikasi ghaib (yang tidak terbatasi ruang dan waktu) sesama aulia. Dijelaskan juga bahwa selain Semar, para punakawan yang dinyatakan sebagai anaknya (Gareng, Petruk dan Bagong) sebenarnya adalah dari bangsa Jin.

Tokoh Punakawan dimainkan dalam sesi goro-goro. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan kekerasan antara tokoh-tokohnya hingga lakon goro-goro dimainkan. Artinya adalah bahwa jalan kekerasan adalah alternatif terakhir. Dalam Islam pun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang sama. Lakon goro-goro pun menggambarkan atau membuka semua kesalahan, dari yang samar-samar menjadi kelihatan jelas sebagaimana sebuah doa: Allahuma arinal haqa-haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba, artinya: Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya, dan tunjukillah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , , ,

BENTUK FISIK SEMAR

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Semar berhidung seperti umbi pangkal seledri, hidung tersebut digambarkan beringus, matanya digambarkan seperti menangis (rembes/rejeh), bibir di bawah agak panjang, rambutnya berjambul, perutnya berburut, tangannya bergelang dan kedua tangannya dapat digerakkan dan pantatnya besar ke belakang.

Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , ,

KEISTIMEWAAN SEMAR

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Rama ataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah – yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar – mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , ,

BATARA SEMAR

Januari 20, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

MAYA adalah sebuah cahaya hitam. Cahaya hitam tersebut untuk menyamarkan segala sesuatu.

Yang ada itu sesungguhnya tidak ada.

Yang sesungguhnya ada, ternyata bukan.

Yang bukan dikira iya.

Yang wanter (bersemangat) hatinya, hilang kewanterane (semangatnya), sebab takut kalau keliru.

Maya, atau Ismaya, cahaya hitam, juga disebut SEMAR artinya tersamar, atau tidak jelas.

Di dalam cerita pewayangan, Semar adalah putra Sang Hyang Wisesa, ia diberi anugerah mustika manik astagina, yang mempunyai 8 daya, yaitu:

  • Tidak pernah lapar
  • Tidak pernah mengantuk
  • Tidak pernah jatuh cinta
  • Tidak pernah bersedih
  • Tidak pernah merasa capek
  • Tidak pernah menderita sakit
  • Tidak pernah kepanasan
  • Tidak pernah kedinginan

Kedelapan daya tersebut diikat pada rambut yang ada di ubun-ubun atau kuncung. Semar atau Ismaya, diberi beberapa gelar yaitu; Batara Semar, Batara Ismaya, Batara Iswara, Batara Samara, Sanghyang Jagad Wungku, Sanghyang Jatiwasesa, Sanghyang Suryakanta. Ia diperintahkan untuk menguasai alam Sunyaruri, atau alam kosong, tidak diperkenankan menguasi manusia di alam dunia.

SEMAR adalah sebuah misteri, rahasia Sang Pencipta. Rahasia tersebut akan disembunyikan kepada orang-orang yang egois, tamak, iri dengki, congkak dan tinggi hati, namun dibuka bagi orang-orang yang sabar, tulus, luhur budi dan rendah hati. Dan orang yang dianugerahi Sang Rahasia, atau SEMAR, hidupnya akan berhasil ke puncak kebahagiaan dan kemuliaan nan abadi.

→ Tinggalkan KomentarKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , ,

KISAH DUALISME SEMAR

Januari 20, 2010 · & Komentar

Tokoh Semar juga disebut Ismaya, yang berasal dari Manik dan Maya. Manik itu Batara Guru, Maya itu Semar. Batara Guru menguasai kahiyangan para dewa dan manusia, sedangkan Semar menguasai bumi dan manusia. Manik dan Maya lahir dari sebuah wujud sejenis telur yang muncul bersama suara genta di tengah-tengah kekosongan mutlak (suwung-awang-uwung).

Telur itu pecah menjadi kenyataan fenomena, yakni langit dan bumi (ruang, kulit telur), gelap dan terang (waktu, putih telur), dan pelaku di dalam ruang dan waktu (kuning telur menjadi Dewa Manik dan Dewa Maya). Begitulah kisah Kitab Kejadian masyarakat Jawa.

Kenyataannya, ruang-waktu-pelaku itu selalu bersifat dua dan kembar. Langit di atas, bumi di bawah. Malam yang gelap, dan siang yang terang. Manik yang tampan dan kuning kulitnya, Semar (Ismaya) yang jelek rupanya dan hitam kulitnya. Paradoks pelaku semesta itu dapat dikembangkan lebih jauh dalam rangkaian paradoks-paradoks yang rumit.

Batara Guru itu mahadewa di dunia atas, Semar mahadewa di dunia bawah. Batara Guru penguasa kosmos (keteraturan) Batara Semar penguasa chaos. Batara Guru penuh etiket sopan santun tingkat tinggi, Batara Semar sepenuhnya urakan.

Batara Guru simbol dari para penguasa dan raja-raja, Semar adalah simbol rakyat paling jelata. Batara Guru biasanya digambarkan sering tidak dapat mengendalikan nafsu-nafsunya, Semar justru sering mengendaikan nafsu-nafsu majikannya dengan kebijaksanaan — kebijaksanaan. Batara Guru berbicara dalam bahasa prosa, Semar sering menggunakan bahasa wangsalan (sastra).

Batara Guru lebih banyak marah dan mengambil keputusan tergesa-gesa, sebaliknya Semar sering menangis menyaksikan penderitaan majikannya dan sesamanya serta penuh kesabaran.

Batara Guru ditakuti dan disegani para dewa dan raja-raja, Semar hanyalah pembantu rumah tangga para kesatria. Batara Guru selalu hidup di lingkungan yang “wangi”, sedang Semar suka kentut sembarangan. Batara Guru itu pemimpin, Semar itu rakyat jelata yang paling rendah.

Seabrek paradoks masih dapat ditemukan dalam kisah-kisah wayang kulit. Pelaku kembar semesta di awal penciptaan ini, Batara Guru dan Batara Semar, siapakah yang lebih utama atau lebih “tua”? Jawabannya terdapat dalam kitab Manik-Maya (abad ke-19).

Ketika Batara Semar protes kepada Sang Hyang Wisesa, mengapa ia diciptakan dalam wujud jelek, dan berkulit hitam legam bagai kain wedelan (biru-hitam), maka Sang Hyang Wisesa (Sang Hyang Tunggal) menjawab, bahwa warna hitam itu bermakna tidak berubah dan abadi; hitam itu untuk menyamarkan yang sejatinya “ada” itu “tidak ada”, sedangkan yang “tidak ada” diterka “bukan”, yang “bukan” diterka “ya”.

Dengan demikian Batara Semar lebih “tua” dari adiknya Batara Guru. Semar itu “kakak” dan Batara Guru itu “adik”, suatu pasangan kembar yang paradoks pula.

Semar itu lambang gelap gulita, lambang misteri, ketidaktahuan mutlak, yang dalam beberapa ajaran mistik sering disebut-sebut sebagai ketidaktahuan kita mengenai Tuhan.

Mengingat genealogi Semar yang semacam itu dalam budaya Jawa, maka tidak mengherankan bahwa tokoh Semar selalu hadir dalam setiap lakon wayang, dan merupakan tokoh wayang yang amat dicintai para penggemarnya. Meskipun dia hamba, rakyat jelata, buruk rupa, miskin, hitam legam, namun di balik wujud lahir tersebut tersimpan sifat-sifat mulia, yakni mengayomi, memecahkan masalah-masalah rumit, sabar, bijaksana, penuh humor.

Kulitnya, luarnya, kasar, sedang dalamnya halus. Dalam ilmu politik, Semar adalah pengejawantahan dari ungkapan Jawa tentang kekuasaan, yakni “manunggaling kawula-Gusti” (kesatuan hamba-Raja). Seorang pemimpin seharusnya menganut filsafat Semar ini.

Seorang pemimpin sebesar bangsa Indonesia ini harus memadukan antara atas dan bawah, pemimpin dan yang dipimpin, yang diberi kekuasaan dan yang menjadi sasaran kekuasaan, kepentingan hukum negara dan kepentingan objek hukum.

Hukum-hukum negara yang baik dari atas, belum tentu berakibat baik, kalau yang dari atas itu tidak disinkronkan dengan kepentingan dan kondisi rakyat. Manunggaling kawula-Gusti. Pemimpin sejati bagi rakyat itu bukan Batara Guru, tetapi Semar. Pemimpin sejati itu sebuah paradoks.

Semar adalah kakak lebih tua dari Batara Guru yang terhormat dan penuh etiket kenegaraan-kahiyangan, tetapi ia menyatu dengan rakyat yang paling papa. Dengan para dewa, Semar tidak pernah berbahasa halus, tetapi kepada majikan yang diabdinya (rakyat) ia berbahasa halus.

Semar menghormati rakyat jelata lebih dari menghormati para dewa-dewa pemimpin itu. Semar tidak pernah mengentuti rakyat, tetapi kerjanya membuang kentut ke arah para dewa yang telah salah bekerja menjalankan kewajibannya. Semar itu hakikatnya di atas, tetapi eksistensinya di bawah.

Badan halusnya, karakternya, kualitasnya adalah tingkat tinggi, tetapi perwujudannya sangat merakyat. Semar gampang menangis melihat penderitaan manusia yang diabdinya, itulah sebabnya wayang Semar matanya selalu berair. Semar lebih mampu menangisi orang lain daripada menangisi dirinya sendiri. Pemimpin Semar sudah tidak peduli dan tidak memikirkan dirinya sendiri, tetapi hanya memikirkan penderitaan orang lain. Ego Semar itu telah lenyap, digantikan oleh “yang lain”.

Semar itu seharusnya penguasa dunia atas yang paling tinggi dalam fenomena, tetapi ia memilih berada di dunia bawah yang paling bawah. Karena penguasa tertinggi, ia menguasai segalanya. Namun, ia memilih tidak kaya. Semar dan anak-anaknya itu ikut menumpang makan dalang, sehingga kalau suguhan tuan rumah kurang enak karena ada yang basi, maka Semar mencegah anak-anaknya, yang melalui dalang, mencela suguhan tuan rumah. Makanan apa pun yang datang padanya harus disyukuri sebagai anugerah. Batara Semar, di tanah Sunda, dikenal dalam wujud Batara Lengser.

Lengser, longsor, lingsir, selalu berkonotasi “turun”. Semar itu adalah pemimpin tertinggi yang turun ke lapis paling bawah. Seorang pemimpin tidak melihat yang dipimpinnya dari atas singgasananya yang terisolasi, tetapi melihat dari arah rakyat yang dipimpinnya. Seorang pemimin tidak menangisi dirinya yang dihujat rakyat, tetapi menangisi rakyat yang dihujat bawahan-bawahannya. Seorang pemimpin tidak marah dimarahi rakyatnya, tetapi memarahi dirinya akibat dimarahi rakyat.

Pemimpin sejati itu, menurut filsafat Semar, adalah sebuah paradoks. Seorang pemimpin itu majikan sekaligus pelayan, kaya tetapi tidak terikat kekayaannya, tegas dalam keadilan untuk memutuskan mana yang benar dan mana yang salah namun tetap berkasih sayang. Filsafat paradoks kepemimpinan ini sebenarnya bersumber dari kitab Hastabrata atau Delapan Ajaran Dewa.

Dewa Kekayaan berseberangan dengan Desa Kedermawanan, yang bermakna seorang pemimpin harus mengusahakan dirinya (dulu, sebagai raja) agar kaya raya, tetapi kekayaan itu bukan buat dirinya, tetapi buat rakyat yang dipimpinnya. Pemimpin Indonesia sekarang ini selayaknya seorang enterpreneur juga, yang lihai menggali kekayaan buat negara. Dewa Keadilan berseberangan dengan watak Dewa Kasih Sayang.

Seorang pemimpin harus membela kebenaran, keadilan, tetapi juga mempertimbangkan rasa keadilannya dengan kasih sayang untuk memelihara kehidupan.

Dewa Api (keberanian) itu berseberangan dengan Dewa Laut (air), yakni keberaniannya bertindak melindungi rakyatnya didasari oleh pertimbangan perhitungan dan kebijaksanaan yang dingin-rasional. Dewa Maut berseberangan dengan watak Dewa Angin.

Menumpas kejahatan dalam negara itu harus dipadukan dengan ketelitiannya dalam mengumpulkan detail-detail data, bagai angin yang mampu memasuki ruang mana pun.

Ajaran tua tentang kekuasaan politik bersumber dari Hastabrata tersebut, dan dimitoskan dalam diri Semar yang paradoks itu. Etika kekuasaan itu ada dalam diri tokoh Semar. Ia Dewa Tua tetapi menjadi hamba.

Ia berkuasa tetapi melayani. Ia kasar di kalangan atas, tetapi ia halus di kalangan bawah. Ia kaya raya penguasa semesta, tetapi memilih memakan nasi sisa. Ia marah kalau kalangan atas bertindak tidak adil, ia menyindir dalam bahasa metafora apabila yang dilayaninya berbuat salah. Bentuk badan Semar juga paradoks, seperti perempuan tetapi juga mirip lelaki, kombinasi ketegasan dan kelembutan.

→ 2 CommentsKategori: Sekilas Info
Ditandai: , , ,